.

.

Rabu, 06 Juni 2012

KITAB SIRRUL ASROR

BAB 4 
TEMPAT ROH-ROH DALAM BADAN

اَعُوْذُ بِااللهِ مِنَ اْلشَّيْطَا نِ الْرَجِيْم بِسْمِ اللهِ اْلَرّحْمنِ اْلرَحِيْمِ
اَشْهَدُ اَنْ لا َاِلَهَ اِلا الله وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
اَلله ُوَحْدهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ حَقُّ الله - رَحْمَةُ الله – رِضَأ الله

Tempat roh manusia, roh kehidupan, di dalam badan ialah dada. Tempat ini berhubung dengan pancaindera dan mata bathiniyah. Urusan atau bidangnya ialah agama. Pekerjaannya ialah mentaati perintah Allah. Dengan peraturan-peraturan yang ditentukan-Nya, Allah memelihara dunia nyata ini dengan teratur dan harmoni. Roh itu bertindak menurut kuwajiban yang ditentukan oleh Allah, tidak menganggap perbuatannya sebagai perbuatannya sendiri kerana dia tidak berpisah dengan Allah. Perbuatannya dari Allah; tidak ada perpisahan di antara ‘aku’ dengan Allah di dalam tindakan dan ketaatannya. 

فَمَن كانَ يَرجوا لِقاءَ رَبِّهِ فَليَعمَل عَمَلًا صٰلِحًا وَلا يُشرِك بِعِبادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (Surah Kahfi, ayat 110).

Allah adalah Esa dan Dia mencintai yang bersatu dan satu. Dia mau semua penyembahan dan semua amal kebaikan, yang Dia anggap sebagai pengabdian kepada-Nya, menjadi milik-Nya semata-mata, tidak dicampur dengan apa saja. Jadi, seseorang tidak memerlukan kelulusan atau halangan dari siapa pun di dalam pengabdiannya kepada TuhanNya, juga amalannya bukan untuk kepentingan duniawi. Semuanya semata-mata kerana Allah.

Suasana yang dihasilkan oleh petunjuk Ilahi seperti menyaksikan bukit-bukti kewujudan Allah di dalam alam nyata ini; kenyataan sifat-sifat-Nya, kesatuan di dalam yang banyak, hakikat di balik yang nyata, semuanya adalah ganjaran bagi amal kebaikan yang benar dan ketaatan tanpa mementingkan diri sendiri. Namun, semuanya itu pada penaklukan alam benda, dari bumi yang di bawah tapak kaki kita hingga pada langit-langit. Termasuk di dalam penaklukan alam dunia ialah kekeramatan yang muncul melalui seseorang, misalnya berjalan di atas air, terbang di udara, berjalan dengan cepat, mendengar suara dan melihat gambaran dari tempat yang jauh atau bisa membaca fikiran yang tersembunyi. Sebagai ganjaran terhadap amal yang baik, juga diberikan besok di akhirat seperti surga, khadam-khadam, bidadari, susu, madu, arak dan lain-lain. Semuanya itu merupakan nikmati surga tingkat pertama, surga dunia.

Tempat ‘roh perpindahan atau roh peralihan’ ialah di dalam hati. Urusannya ialah pengetahuan tentang jalan kerohanian. Kerjanya berkait dengan empat nama-nama pertama bagi nama-nama Allah yang indah. Sebagaimana dua belas nama-nama yang lain empat nama tersebut tidak termasuk di dalam golongan suara dan huruf. Jadi, ia tidak boleh disebut. Allah Yang Maha Tinggi berfirman:

“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaaul husna itu”. (Surah A’raaf, ayat 180).

Firman Allah di atas menunjukkan tugas utama manusia adalah mengetahui nama-nama Tuhan. Ini adalah pengetahuan batin seseorang. Jika mampu memperoleh pengetahuan yang demikian dia akan sampai kepada makam makrifat. Di sanalah pengetahuan tentang nama keesaan sempurna.

Nabi s.a.w bersabda, “Allah Yang Maha Tinggi mempunyai sembilan puluh sembilan nama, siapa mempelajarinya akan masuk syurga”. Baginda s.a.w juga bersabda, “Pengetahuan adalah satu. Kemudian orang arif jadikannya seribu”. Ini bermakna nama kepunyaan Zat hanyalah satu. Ia memancar sebagai seribu sifat kepada orang yang menerimanya.
 

Dua belas nama-nama Ilahi berada di dalam lingkungan sumber pengakuan tauhid “La ilaha illa Llah”. Tiap satunya adalah satu dari pada dua belas huruf dalam kalimah tersebut. Allah Yang Maha Tinggi menguraiakan nama-Nya pada setiap huruf di dalam perkembangan hati. Setiap satu dari empat alam yang dilalui oleh roh terdapat tiga nama yang berlainan. Allah Yang Maha Tinggi dengan cara ini memegang erat hati para pencinta-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Firman-Nya:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذينَ ءامَنوا بِالقَولِ الثّابِتِ فِى الحَيوٰةِ الدُّنيا وَفِى الءاخِرَةِ
 
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat”. (Surah Ibrahim, ayat 27).

Kemudian dikuruniakan kepada mereka persinggahan-Nya. Dia sediakan pokok keesaan di dalam hati mereka, pokok yang akarnya turun kepada tujuh lapis bumi dan Dahannya meninggi kepada tujuh lapis langit, bahkan meninggi lagi hingga ke arasy dan mungkin lebih tinggi lagi. Allah berfirman: 

أَلَم تَرَ كَيفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصلُها ثابِتٌ وَفَرعُها فِى السَّماءِ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, . (Surah Ibrahim, ayat 24).

Tempat ‘roh perpindahan atau roh peralihan’ adalah di dalam nyawa pada hati. Alam malaikat terus di dalam penyaksiannya. Ia boleh melihat surga alam tersebut, penghuninya, cahayanya dan semua malaikat di dalamnya. Kalam ‘roh peralihan’ adalah bahasa alam batin, tanpa huruf tanpa suara. Perhatiannya langsung menyentuh soal-soal rahasia-rahasia sesuatu yang tersembunyi. Tempatnya di akhirat apabila kembali ialah surga Na’im, taman kegembiraan karunia Allah.

Tempat ‘roh sultan’ di mana ia memerintah, adalah di tengah-tengah hati, jantung kepada hati. Urusan roh ini ialah makrifat. Kerjanya ialah mengetahui semua pengetahuan ketuhanan yang menjadi perantaraan bagi semua ibadat yang sebenar-benarnya diucapkan dalam bahasa hati. Nabi s.a.w bersabda, “Ilmu ada dua bagian. Satu pada lidah, yang membuktikan kewujudan Allah. Satu lagi di dalam hati. Inilah yang perlu untuk menyadarkan tujuan seseorang”. Ilmu yang sebenar-benarnya bermanfaat berada di dalam kegiatan hati.

Nabi s.a.w bersabda, “Quran yang mulia mempunyai makna zahir dan makna batin”. Allah Yang Maha Tinggi membukakan Quran kepada sepuluh lapis makna yang tersembunyi. Setiap makna yang berikutnya lebih bermanfaat daripada yang sebelumnya karena ia semakin dekat dengan sumber yang sebenarnya. Dua belas nama kepunyaan Zat Allah adalah serupa dengan dua belas mata air yang memancar dari batu pada saat Nabi Musa a.s menghantamkan batu itu dengan tongkatnya.

وَإِذِ استَسقىٰ موسىٰ لِقَومِهِ فَقُلنَا اضرِب بِعَصاكَ الحَجَرَ ۖ فَانفَجَرَت مِنهُ اثنَتا عَشرَةَ عَينًا ۖ قَد عَلِمَ كُلُّ أُناسٍ مَشرَبَهُم ۖ كُلوا وَاشرَبوا مِن رِزقِ اللَّهِ وَلا تَعثَوا فِى الأَرضِ مُفسِدينَ
 
"Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: ""Pukullah batu itu dengan tongkatmu"". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing) Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan." (Surah Baqarah, ayat 60).

Pengetahuan zahir adalah sama dengan air hujan yang datang dan pergi sementara pengetahuan batin diumpamakan mata air yang tidak pernah kering. 

وَءايَةٌ لَهُمُ الأَرضُ المَيتَةُ أَحيَينٰها وَأَخرَجنا مِنها حَبًّا فَمِنهُ يَأكُلونَ
 
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. ”. (Surah Yaa Sin, ayat 33).

Allah jadikan satu bijian, sebiji benih di langit. Benih itu menjadi kekuatan pada dalam diri manusia. Dijadikan-Nya juga sebiji benih di dalam alam roh-roh (alam al-anfus); menjadi sumber kekuatan, makanan roh. Bijian itu ditanam dengan air dari sumber hikmah. Nabi s.a.w bersabda, “Jika seseorang menghabiskan empat puluh hari dalam keikhlasan dan kesucian, maka akan bersumber hikmah yang memancar dari hatinya pada lidahnya”.

Nikmat bagi ‘roh sultan ialah kelezatan dan kecintaan yang dinikmatinya dengan menyaksikan kenyataan keelokan, kesempurnaan dan kemurahan Allah Yang Maha Tinggi. Firman Allah: 

عَلَّمَهُ شَديدُ القُوىٰ ﴿٥﴾ ذو مِرَّةٍ فَاستَوىٰ ﴿٦﴾ وَهُوَ بِالأُفُقِ الأَعلىٰ ﴿٧﴾ ثُمَّ دَنا فَتَدَلّىٰ ﴿٨﴾ فَكانَ قابَ قَوسَينِ أَو أَدنىٰ ﴿٩﴾ فَأَوحىٰ إِلىٰ عَبدِهِ ما أَوحىٰ ﴿١٠﴾ ما كَذَبَ الفُؤادُ ما رَأىٰ ﴿
١١﴾
 
(5) yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, (6) "Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli." (6) "Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli." (8) Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, (9) maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (10) Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. (11) Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
(Surah Najmi, ayat 5 – 11).

Nabi s.a.w menggambarkan suasana demikian dengan cara lain, “Yang beriman (yang sejahtera) adalah cermin kepada yang beriman (yang sejahtera)”. Dalam ayat ini yang sejahtera yang pertama ialah hati orang yang beriman yang sempurna, sementara yang sejahtera kedua itu ialah yang memancar kepada hati orang yang beriman itu, tidak lain adalah dari Allah Yang Maha Tinggi sendiri. Allah menamakan Diri-Nya di dalam Quran sebagai Yang Mensejahterakan. 

هُوَ اللَّهُ الَّذى لا إِلٰهَ إِلّا هُوَ المَلِكُ القُدّوسُ السَّلٰمُ المُؤمِنُ المُهَيمِنُ العَزيزُ الجَبّارُ المُتَكَبِّرُ ۚ سُبحٰنَ اللَّهِ عَمّا يُشرِكونَ

“Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. ”. (Surah Hasyr, ayat 23).

Kediaman ‘roh sultan’ di akhirat ialah surga Firdaus, surga yang tinggi.
Di mana roh-roh berhenti adalah tempat rahasia yang Allah buat untuk Diri-Nya di tengah-tengah hati, di mana Dia simpankan rahasia-Nya (Sirr) untuk disimpan dengan selamat. Keadaan roh ini diceritakan oleh Allah melalui pesuruh-Nya:
“Insan adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya”.

Urusannya ialah kebenaran (hakikat) yang diperoleh dengan mencapai keesaan; mencapai keesaan itulah tuagsnya. Ia membawa yang banyak kepada kesatuan dengan cara terus menerus menyebut nama-nama keesaan di dalam bahasa rahasia yang suci. Ia bukan bahasa yang berbunyi di luar.

وَإِن تَجهَر بِالقَولِ فَإِنَّهُ يَعلَمُ السِّرَّ وَأَخفَى
 
“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.”. (Surah Ta Ha, ayat 7)

Hanya Allah mendengar bahasa roh suci dan hanya Allah mengetahui keadaannya.
Nikmat bagi roh ini ialah penyaksian terhadap ciptaan Allah yang pertama. Apa yang dilihatnya ialah keindahan Allah. Padanya terdapat penyaksian rahasia. Pandangan dan pendengaran menjadi satu. Tidak ada perbandingan dan tidak ada persamaan tentang apa yang disaksikannya. Dia menyaksikan sifat Allah, keperkasaan dan kekerasan-Nya sebagai Esa dengan keindahan, kelembutan dan kemurahan-Nya.

Bila manusia sampai pada maqomnya, tempat kediamannya, bila dia temui akal asbab, pertimbangan keduniaannya yang memandunya selama ini akan tunduk kepada Perintahnya; hatinya akan rasa gentar bercampur hormat, lidahnya terkunci. Dia tidak berupaya menceritakan keadaan tersebut kerana Allah tidak menyerupai sesuatu.

Bila apa yang dikatakan di sini sampai ke telinga orang yang berilmu, pasti akan memahami tingkat pengetahuannya sendiri. Tumpukan perhatian kepada kebenaran (hakikat) mengenai perkara-perkara yang sudah diketahui sebelum mendongak ke ufuk yang lebih tinggi, sebelum mencari peringkat baru, semoga mereka memperoleh pengetahuan tentang kehalusan perlaksanaan Ilahi.

Semoga mereka tidak menafikan apa yang sudah diperkatakan, tetapi sebaliknya mereka mencari makrifat, kebijaksanaan untuk mencapai keesaan. Itulah yang sangat diperlukan. 

رَبَّنَا اَتِنَا فِى اْلدُنْيَاحَسَنَةً وَفِى اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ اْلنَّارِ. وَاْلحَمْدُ للهِ رَبّ ِاْلعَالَمِيْنَ
رِضَــا يَاالله ……….. الفاتحة




BAB 8
DZIKIR


اَعُوْذُ بِااللهِ مِنَ اْلشَّيْطَا نِ الْرَجِيْم بِسْمِ اللهِ اْلَرّحْمنِ اْلرَحِيْمِ
اَشْهَدُ اَنْ لا َاِلَهَ اِلا الله وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
اَلله ُوَحْدهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ حَقُّ الله - رَحْمَةُ الله – رِضَأ الله

Allah Yang Maha Tinggi menunjukkan jalan kepada para pencari supaya mengingat-Nya:

وَاذكُروهُ كَما هَدىٰكُم

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; (Surah Baqaraah, ayat 198).

Ini bermakna Pencipta kamu telah membawa kamu ke peringkat kesadaran dan keyakinan yang tertentu dan kamu hanya boleh mengingat-Nya menurut kadar usahanya. Nabi s.a.w bersabda, “Ucapan zikir yang paling baik adalah yang aku bawa dan para nabi-nabi , itulah kalimah “La ilaaha illa Llaah”.

Terdapat berbagai peringkat dzikir dan masing-masing ada cara yang berlainan. Ada yang diucapkan dengan lisan secara kuat dan ada pula yang diucapkan secara sirri, dari lubuk hati. Pada peringkat permulaan seseorang perlu menyebutkan ucapan dzikirnya dengan lisan secara berbunyi. Kemudian peringkat demi peringkat zikir mengalir ke dalam diri, turun kepada hati, naik kepada roh dan seterusnya pergi semakin jauh yaitu kepada bagian rahasia-rahasia, pergi lagi kepada yang lebih jauh yaitu bagian yang tersembunyi sehingga kepada yang paling tersembunyi dari yang tersembunyi. Sejauh mana dzikir masuk ke dalam, peringkat yang dicapainya, tergantung pada sejauh mana Allah dengan kemurahan-Nya membimbing seseorang.

Dzikir yang diucapkan dengan perkataan menjadi kenyataan bahwa hati tidak lupa kepada Allah. Zikir secara rahasia di dalam hati adalah pergerakan perasaan. Dzikir hati adalah dengan cara merasakan di dalam hati tentang kenyataan tentang keperkasaan dan keelokan Allah. Dzikir adalah melalui pancaran cahaya suci yang dipancarkan oleh keperkasaan dan keelokan Allah. Zikir pada tahap rahasia ialah melalui keghairahan (dzauk) yang diterima daripada pemerhatian rahasia suci itu. Dzikir pada bagian tersembunyi membawa seseorang kepada:

فى مَقعَدِ صِدقٍ عِندَ مَليكٍ مُقتَدِرٍ

“Di tempat duduk yang haq, di sisi Raja Agung yang sangat berkuasa”. (Surah Qamar, ayat 55).

Dzikir peringkat terakhir yang dipanggil khafi al-khafi – yang paling tersembunyi daripada yang tersembunyi – membawa seseorang kepada suasana fana diri sendiri dan penyatuan dengana yang haq. Dalam kenyataannya tiada sesuatu kecuali Allah yang mengetahui keadaan orang yang telah masuk ke dalam alam yang mengandung semua pengetahuan, kesudahan kepada semua dan segala perkara.

وَإِن تَجهَر بِالقَولِ فَإِنَّهُ يَعلَمُ السِّرَّ وَأَخفَى

“Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” . (Surah Ta Ha, ayat 7).

Bila seseorang telah melewati tahap dzikir-dzikir tersebut suasana jiwa yang berlainan seolah-olah roh lain lahir dalam diri seseorang. Roh ini lebih bersih dan lebih indah dari pada roh-roh yang lain. Ia adalah bayi kepada hati, bayi kepada hakikat. Ketika dalam bentuk benih bayi ini mengajak dan menarik orang lain untuk mencari dan menemui yang haq. Setelah ia lahir bayi ini mengajak orang lain supaya mendapatkaan Zat Allah Yang Maha Tinggi. Roh baru ini yang dinamakan bayi kepada hati dan juga benih serta keupayaannya tidak terdapat pada semua orang. Ia hanya terdapat pada orang mukmin yang bersih.

رَفيعُ الدَّرَجٰتِ ذُو العَرشِ يُلقِى الرّوحَ مِن أَمرِهِ عَلىٰ مَن يَشاءُ مِن عِبادِهِ لِيُنذِرَ يَومَ التَّلاقِ

“ (Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, Yang mempunyai Arasy, Yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, supaya dia memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat), (Surah Mukmin/Ghofir, ayat 15).

Roh khusus ini diutus dari maqam Yang Maha Perkasa dan diletakkan di dalam alam maya yang nyata di mana sifat-sifat Pencipta menyata pada penciptaan, tetapi roh ini adalah kepunyaan alam yang haq. Ia tidak berminat dan tidak memperdulikan apa saja melainkan Zat Allah. Nabi s.a.w bersabda, “Dunia ini tidak disukai dan tidak dihajati oleh orang yang menginginkan akhirat. Akhirat pula tidak dihajati oleh orang yang menginginkan dunia, dan ia tidak akan diberi kepada mereka. Tetapi bagi roh yang mencari Zat Allah dunia dan akhirat tidak menarik perhatiannya” . Roh untuk yang haq. Orang yang memilikinya akan mencari, menemui dan bersama Tuhannya.

Apa saja yang kamu buat di sini, dhohir kamu mestilah menurut syari'at (jalan) yang lurus. Ia hanya mungkin dengan mengikuti dan mematuhi serta memelihara peraturan dan hukum agama. Untuk berbuat demikian seseorang haruslah menyadari, mengingati Allah malam dan siang, lahir dan batin, berterusan. Bagi mereka yang menyaksikan yang haq mengingati Allah adalah wajib sebagaimana perintah-Nya:

فَاذكُرُوا اللَّهَ قِيٰمًا وَقُعودًا وَعَلىٰ جُنوبِكُم

“Maka hendaklah kamu ingat kepada Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil (berbaring) atas rusuk-rusuk kamu” . (Surah Nisaa', ayat 103).

الَّذينَ يَذكُرونَ اللَّهَ قِيٰمًا وَقُعودًا وَعَلىٰ جُنوبِهِم وَيَتَفَكَّرونَ فى خَلقِ السَّمٰوٰتِ وَالأَرضِ رَبَّنا ما خَلَقتَ هٰذا بٰطِلًا سُبحٰنَكَ فَقِنا عَذابَ النّارِ
 
"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ""Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Surah Imraan, ayat 191).

Selasa, 05 Juni 2012

HUKUM SHOLAT FARDHU DAN SUNAH & HUKUM QODLO

Ada seorang Makmum yang mengerjakan sholat wajib misal Dzuhur, ternyata si Imam sedang mengerjakan sholat sunah.  Bagaimanakah Hukumnya ?

Para ulama berbeda pendapat mengenai tata cara sholat seperti itu.

1. Pendapat pertama
Adalah madzhab Syafi'I mengatakan bahwa sah sholat jamaah dengan perbedaan niat imam dan makmum secara mutlak. Jadi meskipun imam sholat sunnah dan makmum sholat fardlu, imam sholat dhuhur dan makmum sholat ashar, imam sholat ada' dan makmum sholat qadla, semuanya sah, asalkan format sholat imam dan makmum sama. Kalau formatnya beda, maka tidak sah, seperti misalnya imam sholat gerhana dan makmum sholat isya', maka tidak diperbolehkan. Madzhab Syafi'I ini merupakan madzhab yang paling longgar.
 
2. Pendapat kedua 
Adalah madzhab Maliki yang mengatakan tidak sah sholat imam dan makmum yang berbeda niatnya, secara mutlak. Mereka yang sholat fradlu tidak boleh bermakmum dengan imam yang sholat sunnah, begitu makmum sholat dhuhur tidak sah bila imamnya sholat selain fardlu. Ini pendapat paling ketat.
 
3. Pendapat ketiga 
Adalah madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa boleh orang sholat sunnah di belakang imam yang sholat fardlu tapi tidak sebaliknya. Begitu juga tidak sah sholat makmum yang berbeda dengan sholat imamnya meskipun sama-sama fardlu.
Dalil-dalil:
 

Dalil pendapat pertama adalah:

1. Hadist riwayat Syafi'I dari Abu Bakrah bahwa Rasulullah s.a.w. keluar untuk mendamaikan satu persengketaan di Bani Sulaim, lalu beliau membagi sahabatnya menjadi dua kelompok, kemudian beliau sholat mengimami dengan kelompok satu, kemudian sholat lagi mengimami dikelompok kedua. Diriwayatkan itu sholat maghrib.

Sangat jelas pada hadist tersebut bahwa Rasulullah mengimami kelompok kedua, padahal beliau telah sholat di kelompok pertama. Berarti sholat Rasulullah sunnah dan sholat makmum fardlu.

2. Hadist riwayat Muslim dari Jabir bin Abdullah bahwa Suatu hari Muadz sholat bersama Rasulullah s.a.w. lalu ia datang ke kaumnya lalu ia mengimami kaumnya sholat Isya' dengan membaca surat Baqarah, lalu seorang lelaki keluar dari jamaah dan menyelesaikan sendiri sholatnya. Orang-orang pun menegurnya "Apakah anda orang manafik?", iapun menjawab"Tidak, aku akan adukan masalah ini kepada Rasulullah". Sesampai kepada Rasulullah, orang itu berkata "Wahai Rasulullah, kami orang-orang bekerja siang, Muzdz telah mengimami kami sholat Isya' telah larut dan membaca surat Baqarah". Ketika Rasulullah mendengar cerita itu, ditegurnya Muad'z "Apakah angkau orang yang suka membuat fitnah? Mengapa tidak kau baca surat Sabbihis dan Wallaili Idza Yaghsyaa".
Hadist ini juga menunjukkan perbedaan sholat imam dan makmum, dimana Muadz telah sholat Isya bersama Rasulullah lalu menjadi imam di kaumnya. Bagi Muadz sholat sunnah dan bagi kaumnya sholat fardlu.

3. Hadist riwayat Ahmad dll. Suatu hari Rasulullah s.a.w. sholat bersama sahabatnya, selesai salam datanglah seorang lelaki ketinggalan lalu ia hendak sholat sendiri, lalu Rasuullah bersabda "Siapa yang mau bersedekah dengan orang ini dengan berjamaah dengannya".
Hadist ini juga menunjukkan sahnya sholat meskipun dengan perbedaan niat antara makmum dan imam.

Imam Syafi'I menyimpulkan bahwa riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa perbedaan niat sholat antara imam dan makmum tidak membatalkan sholat jamaah.
 

Dalil pendapat kedua dan ketiga:
 
1. Hadist diriwayatkan Bukhari dan Muslim dll. Rasulullah s.a.w. bersabda "Sesungguhnya dijadikan imam untuk diikuti, ketika ia takbir maka takbirlah, ketika ruku' maka ruku'lah ketika sujud sujudlah, ketika ia sholat berdiri maka berdirilah …

Hadist tersebut menegaskan bahwa makmum harus mengikuti imam, perbedaan niat makmum menunjukkan sikap tidak mengikuti imam, maka tidak sah sholatnya.

2. Hadist riwayat Ashabus Sunan dari Barra' bin Azib, Rasulullah s.a.w. bersabda "Janganlah kalian berbeda, maka berbedalah hati kalian, sesungguhnya Allah dan MalakatNya mendoakan para mushalli di shaf pertama".

Hadist ini melarang berbeda dalam melakukan sholat, baik pada shaf maupun niat, maka perbedaan niat imam dan makmum menjadikan sholat tidak sah.

Imam Abu Hanifah nampak mencoba menggabung hadist-hadist di atas secara tekstual, bahwa hanya makmum sholat sunnah boleh mengikuti imam yang sholat fardlu seperti yang dicontohkan dalam hadist.




HUKUM MENGQODLO SHALAT TERTINGGAL

Oleh : Ustadz Ahmad Daerobiy

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم  
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيْمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى المُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa 103)


DIWAJIBKAN SEGERA MELAKUKAN QODLO

(وَيُباَدِرُ بِفاَئِتٍ) مِنْ فَرْضِ صَلاَةٍ أَوْ غَيْرِهَا مَتَى تَذَكَّرَهُ وُجُوْباً إِنْ فاَتَ بِغَيْرِ عُذْرٍ تَعْجِيْلاً لِبَرَاءَةِ الذِّمَّةِ فَلاَ يَجُوْزُ لِغَيْرِ المَعْذُوْرِ أَنْ يُصَرِّفَ زَمنًا فيِ غَيْرِ قَضَائِهِ كاَلتَّطَوُّعِ وَفَرْضِ الكِفَايَةِ وَفَرْضِ عَيْنٍ مُوَسَّعٍ إِلاَّ فِيْمَا يَضْطُرَّ إِلَيْهِ كَالنَّوْمِ وَتَحْصِيْلِ مُؤْنَةِ مَنْ تَلْزَمُهُ مُؤْنَتُهُ

Segera melakukan shalat qodlo (melakukan di luar waktunya) dari shalat yang tertinggal, baik dari shalat fardu atau selain selain shalat fardu. Dikala ingat akan shalat yang tertinggal itu. Segera melakukan qodlo ini hukumnya wajib apabila shalatnya tertinggal tanpa 'udzur (boleh tertinggal) kewajiban segera mengqodlo ini adalah untuk segera melepaskan kewajiban yang masih menjadi beban tanggungan. Dengan demikian orang yang tidak memiliki 'udzur dalam meninggalkan shalat fardu dilarang untuk menggunakan waktu hidupnya selain melakukan qodlo fardu tersebut, seperti dilarang mendahulukan shalat sunnah dan shalat fardu kifayah (kewajiban kolektif), juga dilarang mendahulukan shalat fardu a'en (kewajiban individu) yang waktunya leluasa, terkecuali waktu yang digunakan untuk sesuatu yang dibutuhkan dalam hidup, seperti tidur dan mencari nafqah untuk memenuhi kebutuha mereka yang wajib dalam tanggungannya.

وَكاَلصُّوَرِ المُسْتَثْنَاةِ مِنْ وُجُوْبِهَا الفَوْرِيَّةِ وَهِيَ مَسَائِلٌ مِنْهَا ماَ إِذَا خَافَ فَوْتَ أَدَاءٍ حَاضِرَةٍ بِأَنْ عُلِمَ أَنَّهُ لَوْ اشْتَغَلَ بِقَضَاءِ الفَائِتَةِ لَمْ يُدْرِكْ مِنْ وَقْتِ الحَاضِرَةِ مَا يَسَّعُ رَكْعَةً فَيَبْدَأُ بِالحَاضِرَةِ وُجُوْبًا وَخَرَجَ بِفَوْتِ أَدَاءِ الحَاضِرَةِ فَوْتُ جَمَاعَتِهَا فَإِذَا خَافَ فَوْتَهاَ بَدَأَ بِالقَضَاءِ , وَظَاهِرُ هَذَا أَنَّهُ يَبْدَأُ بِالفَائِتَةِ وَلَوْ بِعُذْرٍ وَأَنَّهُ لاَ فَرْقَ بَيْنَ أَنْ يَرْجُو جَمَاعَةً غَيْرَ هَذِهِ أَوْلاَ وَمِنْهَا مَا إِذَا لَمْ يُوْجَدُ إِلاَّ ثَوْبٌ وَاحِدٌ فيِ رُفْقَةِ عُرَّاةٍ أَوْ ازْدَحَمُوْا عَلَى بِئْرٍ أَوْ مَكَانٍ لِلصَّلاَةِ فَلاَ يُقْضَى حَتَّى تَنْتَهِيَ النَّوْبَةُ إِلَيْهِ , وَمِنْهَا فاَقِدُ الطَّهُوْرَيْنِ إِذَا صَلَّى لِحُرْمَةِ الوَقْتِ ثُمَّ وَجَدَ خَارِجَ الوَقْتِ تُرَابًا لاَ يَسْقُطُ بِهِ الفَرْضُ كَأَنْ كاَنَ بِمَحَلٍ يَغْلِبُ فِيْهِ وُجُوْدُ المَاءِ فَلاَ يُقْضَى بِهِ إِذْ لاَ فَائِدَةَ فِيْهِ , وَمِنْهَا ماَ إِذَا وَجَدَ غَرِيْقًا يَجِبُ إِنْقَاذُهُ فَيَحْرُمُ اِشْتِغَالُهُ بِالقَضَاءِ


Shalat yang dikecualikan dari kewajiban shalat tunai ialah ada bebarapa gambaran ;

1.    Gambaran pertama ; 
Apabila dikhawatirkan tertinggal shalat tunai, seperti diyakini bahwa apabila sibuk melakukan shalat qodlo yang tertinggal maka tidak dapat mengejar shalat tunai tepat di dalam waktunya, yaitu waktu yang cukup untuk melaksanakan satu raka'at. Maka dalam kondisi ini adalah wajib mendahulukan shalat tunai. Dan dikecuailkan dengan tertinggal shalat tunai ialah tertinggal berjama'ah untuk shalat tunai, artinya apabila dikhawatirkan tertinggal berjama'ah saja maka ia masih wajib mendahlukan shalat qodlo dari shalat yang tertinggal tanpa 'udzur. Lebih jelasnya ialah dalam kondisi seperti itu hendaknya mendahulukan shalat qodlo meskipun shalat qodlo tersebut dari shalat tertinggal karena adanya 'udzur.

2.    Gambaran kedua ; 
Apabila tidak ditemukan pakaian melainkan hanya satu pakaian dan pakaian itu digunakan dua orang atau lebih, atau mengantri masuk kamar kecil, atau mengantri mendapatkan tempat shalat maka jangan dulu melakukan shalat qodlo sehingga sudah selesai dari kembali semua itu (selesaikan dulu shalat tunai).

3.    Gambaran ketiga ; 
Apabila seorang yang tidak dapat melakukan dua cara bersuci (wudlu dan tayamum) apabila ia melakukan shalat karena menghormati waktu kemudian setelah keluar waktu shalat ia menemukan tanah untuk tayamum maka kewajiban shalat fardunya tersebut tidak gugur, artinya kewajiban shalat dinyatakan belum ditunaikan. Seperti seseorang berada di suatu empat yang biasanya mudah mendapatkan air maka ia tidak dapat mendahulukan shalat qodlo karena tidak ada manfaat untuk melaksanakan shalat menghormati waktu.

4.    Gambaran keempat ; 
Apabila menemukan orang yang tenggelam maka ia wajib menyelamatkannya dan haram baginya untuk sibuk melaksanakan qodlo.





DISUNNAH SEGERA MELAKUKAN QODLO

وَيُبَادِرُ بِفَائِتٍ اِسْتِحْبَابًا مُسَارِعَةً لِبَرَاءَةِ ذِمَّتِهِ إِنْ فاَتَ بِعُذْرٍ فَإِنَّ وُجُوْبَ قَضَائِهِ عَلَى التَّرَاخِيْ وَالعُذْرُ كَنَوْمٍ لَمْ يَتَعَدَّ بِهِ بِأَنْ كاَنَ قَبْلَ دُخُوْلِ الوَقْتِ أَوْ فِيْهِ وَوَثَقَ بِيَقْظَتِهِ قَبْلَ خُرُوْجِهِ بِحَيْثُ يُدْرِكُ الصَّلاَةَ فِيْهِ فَإِنْ كاَنَ مُتَعَدِيًا بِهِ كَأَنْ نَامَ بَعْدَ دُخُوْلِهِ وَلَمْ يَثَقَ بِيَقْظَتِهِ فِيْهِ وَجَبَ القَضَاءُ فَوْرًا وَحَيْثُ لَمْ يَكُنْ مُتَعَدِيًا بِالنَّوْمِ وَاسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَقَدْ بَقِيَ مِنْ وَقْتِ الفَرِيْضَةِ ماَ لاَ يَسَعُ إِلاَّ الوُضُوْءَ أَوْ بَعْضَهُ فَحُكْمُهُ حُكْمُ مَافاَتَهُ بِعُذْرٍ فَلاَ يَجِبُ قَضَاؤُهَا فَوْرًا

Segera melaksanakan shalat qodlo. Segera qodlo ini hukumnya sunnah, karena untuk membebaskan kewajiban yang ditanggungnya. Sunnah segera ini apabila shalat tertinggal karena ada 'udzur. Karena kewajiban mengqodlonya di atas keleluasaan. Yang dimaksud 'udzur ini adalah seperti tidur yang tidak ada unsur sengaja. Umpamanya tidur sebelum masuk waktu shalat atau tidur di dalam waktu sahalat dan di duga kuat bisa bangun sebelum keluar waktu shalat, sekiranya dapat melakukan shalat masih di dalam waktunya. Apabila tidur ada unsure sengaja, maksudnya seperti tidur setelah masuk waktu shalat dan dugaan kuatnya tidak akan bisa bangun dalam waktu shalat maka dalam hal ini ia wajib qodlo saat itu juga. Sekiranya shalat tertinggal karena ada faktor sengaja sebab tidur, ketika bangun dari tidur masih ada tersisa waktu shalat fardu hanya sempat untuk melaksanakan wudlu saja atau hanya sempat untuk melaksanakan sebagian wudlu, maka hukum shalat ini adalah tertinggal sebab adanya 'udzur, maka tidak wajib mengqodlonya saat itu juga.

وَمِنَ الأَعْذَارِ نِسْيَانٌ لَمْ يَنْشَأُ عَنْ تَقْصِيْرِ فَإِنْ كَانَ عَنْ تَقْصِيْرِ كَاشْتِغاَلِ بِلَعْبٍ فَلَيْسَ عُذْرًا وَاشْتَغَالُ بِمَا يَلْزُمُهُ تَقْدِيْمُهُ عَلَى الصَّلاَةِ كَدَفْعٍ صَائِلٍ وَتُقْضَى الجُمْعَةُ ظَهْرًا

Diantara 'udzur dalam shalat ialah lupa yang timbul bukan dari kelalaian. Apabila lupa shalat sampai tertinggal karena ada unsur lalai seperti sibuk dalam permainan, maka tidak dinyatakan sebagai 'udzur. Dan yang termasuk 'udzur ialah sibuk melakukan sesuatu yang wajib didahulukan daripada pelaksanaan shalat, seperti menyelamatkan orang teraniaya. Dan teknis melaksanakan qodlo jum'at adalah dengan cara melaksanakan shalat dzuhur.

وَيُنْدَبُ قَضَاءُ النَّوَافِلِ المُؤَقَّتَةِ دُوْنَ النَّفْلِ المُطْلَقِ وَذِي السَّبَبِ وَلَوْ كَانَ عَلَيْهِ فَوَائِتٌ لاَيَعْلَمُ عَدَدَهَا قَضَى ماَتَحَقَّقَ تَرْكُهُ فَلاَ يُقْضَى المَشْكُوْكُ فِيْهِ عَلَى مَاقَالَهُ القَفَالُ وَالمُعْتَمَدُ مَاقاَلَهُ القَاضِى حُسَيْنِ أَنَّهُ يُقْضَى مَازَادَ عَلَى مَاتَحَقَّقَ فَعْلُهُ فَيُقْضَى مَاذُكِرَ

Disunnahkan melaksanakan qodlo shalat sunnah yang memaiki waktu, tapi tidak untuk shalat sunnah mutlaq (tidak memiliki waktu). Juga disunnahkan melaksanakan qodlo dari shalat sunnah yang memiliki sebab. Apabila seseorang mengaku memiliki shalat yang tertinggal dan belum di qodlo, dan tidak diketahui jumlahnya maka ia dapat mengqodlo hanya dari shalat yang diyakini tertinggal, artinya jangan mengqodlo shalat yang masih dalam keraguan, hal ini sebagaimana dikemukakan oleh Syekh Al-Qofal. Dan pendapat yang kuat sebagaimana diungkakan oleh Al-Imam Al-Qodlo Husen adalah bahwa boleh mengqodlo shalat melebihi kenyataan yang biasa dilakukannya, silahkan mengqodlo shalat yang telah disebutkan (shalat yang tertinggal).




CONTOH NIAT SHOLAT QODLO

Contoh Niat Qodlo shalat fardu Dzuhur ;

أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ قَضاَءً (مَأْمُوْماً/إِماَماً) ِللهِ تَعاَلىَ-أَللهُ أَكْبَرُ
“Saya melaksanakan shalat fardu Dzuhur empat raka’at menghadap kiblat qodlo (makmum/imam) karena Allah”

Contoh Niat Qodlo shalat sunnah Tahajud ;

أُصَلِّى سُنَّةَ التَّهَجُدِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ القِبْلَةِ قَضاَءً ِللهِ تَعاَلىَ-أَللهُ أَكْبَرُ
“Saya melaksanakan shalat sunnah Tahajud dua raka’at menghadap kiblat qodlo karena All




HUKUM MENUNDA MELAKUKAN SHALAT


إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى المُؤْمِنِيْنَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa 103)

وَاعْلَمْ أَنَّ الصَّلاَةَ تَجِبُ بِأَوَّلِ الوَقْتِ وُجُوْباً مُوَسَعاً فَلَهُ التَّأْخِيْرُ عَنْ أَوَّلِهِ إِلىَ وَقْتٍ يَسَعُهاَ بِشَرْطِ أَنْ يَعْزَمَ عَلَى فَعْلِهاَ فِيْهِ , وَلَوْ أَدْرَكَ فيِ الوَقْتِ رَكْعَةً لاَ دُوْنَهاَ فاَلكُلُّ أَدَاءً وَإِلاَّ فَقَضَاءً

Ketahuilah, bahwa shalat wajib di awal waktu, wajib yang leluasa, artinya boleh menunda shalat dari awal waktu sampai akhir waktu, yang memang cukup waktu untuk melaksanakannya, ini dengan syarat berniat ‘azam (direncanakan) akan shalat di waktu tersebut. Jika dalam waktu hanya melakukan satu raka’at, tidak dibawah satu raka’at, maka semua raka’at termasuk melakukan tunai, sedang jika tidak termasuk qodlo.

وَيَأْثِمُ بِإِخْرَاجِ بَعْضِهاَ عَنِ الوَقْتِ وَإِنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً نَعَمْ لَوْ شَرَعَ فيِ غَيْرِ الجُمْعَةِ وَقَدْ بَقِيَ ماَ يَسَعُهاَ جاَزَ لَهُ بِلاَ كَرَاهَةٍ أَنْ يَطَوِّْلُهاَ بِالقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ حَتَّى يَخْرُجَ الوَقْتُ وَإِنْ لَمْ يُوَقِعُ مِنْهاَ رَكْعَةً فِيْهِ عَلَى المُعْتَمَدِ فَإِنْ لَمْ يَبْقَ مِنَ الوَقْتِ ماَ يَسَعُهاَ أَوْ كاَنَتْ جُمْعَةً لَمْ يَجُزْ المَدُّ وَلاَ يُسَنُّ الاِقْتِصاَرُ عَلَى أَرْكاَنِ الصَّلاَةِ ِلإِدْرَاكِ كَلِّهاَ فيِ الوَقْتِ

Seseorang berdosa, jika menunda shalat sampai melakukan shalat melewati batas waktu, meskipun dalam waktu dapat  melakukan satu raka’at. Betul demikian, jika mau melakukan shalat selain jum’at lalu masih tersisa waktu melakukan shalat, baginya boleh tanpa makruh, memperpanjang bacaan dan dzikir shalat, sampai melewati batas waktu shalat, meskipun tidak satu raka’at-pun masuk dalam waktu, ini menurut pendapat kuat. Sebaliknya jika tidak tersisa cukup waktu atau shalatnya shalat jum’at maka tidak boleh memperpanjang bacaan dan dzikir. Dan juga tidak disunnahkan mempersingkat rukun-rukun shalat karena untuk mengejar semua raka’at shalat dalam waktu.

(فَرْعٌ) يُنْدَبُ تَعْجِيْلُ صَلاَةِ وَلَوْ عِشَاءً ِلأَوَّلِ وَقْتِهاَ لِخَبَرٍ "أَفْضَلُ الأَعْماَلِ الصَّلاَةِ ِلأَوَّلِ وَقْتِهاَ" وَتَأْخِيْرُهاَ عَنْ أَوَّلِهِ لِتَيَقُنِ جَماَعَةٍ أَثْناَءَهُ وَإِنْ فَحِشَ التَّأْخِيْرُ مَا لَمْ يَضِقُ الوَقْتُ وَلِظَنِّهاَ إِذَا لَمْ يَفْحُشْ عُرْفاً لاَ لِشَكٍّ فِيْهاَ مُطْلَقاً

(Sub Bahasan) disunnahkan segera melakukan shalat meskipun isya agar diawal waktu, berdasarkan hadits “Perbuatan shalat yang paling utama ialah melakukan shalat diawal waktu”. (HR. Thabraniy). Juga disunnahkan menunda shalat jika yakin akan berjama’ah, meski kurang baik menunda shalat, ini jika tidak sempit waktu, dan berdasar dugaan akan berjama’ah jika baik menurut kebiasaan, bukan karena ragu akan berjama’ah, mutlak.

وَالجَماَعَةُ القَلِيْلَةُ أَوَّلَ الوَقْتِ أَفْضَلٌ مِنَ الكَثِيْرَةِ آَخِرَهُ , وَيُؤَخِّرُ المُحْرِمُ صَلاَةَ العِشاَءِ وُجُوْباً ِلأَجْلِ خَوْفِ فَوَاتِ حَجٍّ بِفَوْتِ الوُقُوْفِ بِعَرَفَةَ لَوْ صَلاَّهاَ مُتَمَكِّناً ِلأَنَّ قَضَاءَهُ صَعْبٌ وَالصَّلاَةُ تُؤْخَرُ ِلأَنَّهاَ أَسْهَلُ مِنْ مَشَقَتِهِ وَلاَ يُصَلِّيْهاَ صَلاَةَ شِدَةَ الخَوْفِ , وَيُؤَخِّرُ أَيْضاً وُجُوْباً مَنْ رَأَى نَحْوَ غَرِيْقٍ أَوْ أَسِيْرٍ لَوْ أَنْقَذَهُ خَرَجَ الوَقْتُ

Berjama’ah sedikit di awal waktu lebih utama dari pada berjama’ah banyak di akhir waktu. Seorang ihram (haji) wajib menunda shalat isya karena khawatir tertinggal haji sebab tertingal wukuf di ‘Arafah, ini jika ia shalat Isya di tempatnya, karena qodlo wukuf lebih sulit maka shalat wajib ditunda karena ia mudah dari pada kesulitan mengejar wukuf. Disini jangan melakukan shalat dengan cara shalat Syiddatul-Khauf (karena sangat ketakutan). Dan wajib menunda shalat bagi orang yang melihat dan akan menolong orang tenggelam atau ditawan penjahat, meskipun menyelamatkannya sampai keluar waktu shalat. (Shalat dapat diqodlo)

(فَرْعٌ) يُكْرَهُ النَّوْمُ بَعْدَ دُخُوْلِ وَقْتِ الصَّلاَةِ وَقَبْلَ فَعْلِهاَ حَيْثُ ظَنَّ الاِسْتِيْقَاظَ قَبْلَ ضَيْقِهِ لِعاَدَةٍ أَوْ ِلإِيْقاَظِ غَيْرِهِ لَهُ وَإِلاَّ حَرُمَ النَّوْمُ الَّذِيْ لَمْ يَغْلِبُ فيِ الوَقْتِ

(Sub Bahasan) Makruh tidur setelah masuk waktu shalat dan belum melakukan shalat, ini jika diduga akan terbangun sebelum sempit waktu melakukan shalat atau ada orang yang membangunkannya. Jika tidak seperti itu, maka haram tidur di saat masuk waktu shalat dan belum melakukan shalat, yang tidak dapat menguasai waktu.

(فَرْعٌ) يُكْرَهُ تَحْرِيْماً صَلاَةُ لاَ سَبَبَ لَهاَ كاَلنَّفْلِ المُطْلَقِ وَمِنْهُ صَلاَةُ التَّساَبِيْحِ أَوْ لَهاَ سَبَبٌ مُتَأَخِّرٌ كَرَكْعَتَيْ اِسْتِخاَرَةٍ وَإِحْرَامٍ بَعْدَ أَدَاءِ صُبْحٍ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ كَرُمْحٍ وَعَصْرٍ حَتَّى تَغْرُبَ وَعِنْدَ اسْتِواَءٍ غَيْرِ يَوْمِ الجُمْعَةِ , لاَ ماَ لَهُ سَبَبٌ مُتَقَدِّمٌ كَرَكْعَتَيْ وُضُوْءٍ وَطَوَافٍ وَتَحِيَّةٍ وَكُسُوْفٍ وَصَلاَةِ جِناَزَةٍ وَلَوْ عَلَى غَاِئبٍ وَإِعاَدَةٍ مَعَ جَماَعَةٍ وَلَوْ إِماَماً وَكَفاَئِتَةِ فَرْضٍ أَوْ نَفْلٍ لَمْ يَقْصِدْ تَأْخِيْرُهاَ لِلْوَقْتِ المَكْرُوْهِ لِيُقْضِيْهاَ فِيْهِ أَوْ يُدَاوِمَ عَلَيْهِ

(Sub Bahasan) Makruh Tahrim (sama dengan haram) melakukan shalat yang tidak memiliki sebab, seperti shalat sunnah mutlaq termasuk shalat tasbih, atau shalat yang sebabnya diakhir seperti shalat istihkoroh dan shalat ihram, setelah shalat subuh sampai matahari terangkat satu tumbak, setelah shalat asar sampai matahri terbenam, pada saat matahari tepat diatas kepala kecuali hari jum’at. Tidak haram jika di waktu-waktu tersebut melakukan shalat yang sebabnya didepan, seperti shalat sunnah wudlu, shalat sunnah thowaf, shalat sunnah tahiyyatul masjid, shalat sunnah gerhana, shalat jenazah, meskipun jenazah gaib, mengulang karena berjama’ah meskipun imam, sama seperti qodlo shalat fardu, qodlo shalat sunnah, yang tidak bermaskud menundanya karena untuk melakukannya di waktu makruh atau rutin melakukannya di waktu makruh.

فَلَوْ تَحَرَّى إِيْقاَعَ صَلاَةٍ غَيْرِ صاَحِبَةِ الوَقْتِ فيِ الوَقْتِ المَكْرُوْهِ مِنْ حَيْثُ كَوْنِهِ مَكْرُوْهاً فَتَحْرُمُ مُطْلَقاً وَلاَ تَنْعَقِدُ وَلَوْ فاَئِتَةً يَجِبُ قَضاَؤُهاَ فَوْرًا ِلأَنَّهُ مُعاَنِدٌ لِلشَّرْعِ

Jika shalat yang bukan pemilik waktu, sengaja dan khusus ditujukan untuk dilakukan di waktu makruh, yaitu memang ternyata waktu makruh (abis subuh, asar atau matahari diatas kepala), maka ia haram secara mutlak, dan shalatnya tidak sah, meskipun shalat qodlo yang wajib melakukannya di saat itu juga, karena ia melanggar aturan agama.

Pustaka : Kitab Fathul-Mu’in Syekh Zaenuddin Al-Malabariy

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes