.

.

Jumat, 22 Juni 2012

SEKARANG AKU TAHU SIAPA AKU

DIALOG SANG GARAM DAN SANG LAUT

Sang Garam berkata kepada Sang Laut : " Siapakah sesungguhnya kamu"? Dengan tersenyum tersipu-sipu Sang Laut pun berkata : " Kalau Kamu ingin tahu siapakah AKU, maka ceburkanlah dirimu kedalam AKU. Nanti kamu akan tahu siapakah AKU sebenarnya".

Tanpa berfikir panjang lagi, Sang Garam menceburkan dirinya ke dalam Sang Laut. Semakin dalam ia menyelami Laut, maka semakin hancurlah dirinya ke dalam Laut, sehingga ketika partikel yang paling kecil dan terakhir dalam diri Sang Garam Hancur, maka Sang Garam pun memahami dan mengenal hakikat dzohir dan bathinnya. Bahwa Sang Garam bukanlah Sang Laut....dan Sang Laut bukanlah Sang Garam.......Karena Sang Garam beraasal dari Sang Laut, maka Sang Garam harus meLaut agar bisa menyandang gelar Garam Laut, bukan hanya jadi Garam Dapur, Garam di Super market, Garam dipasar maupun Garam yang dimasak. Karena gembiranya Sang Garam pun berteriak kegirangan dan berkata... : "SEKARANG AKU TAHU SIAPA AKU".

Orang yang sudah Liqa' Allah (bertemu Alloh) pasti akan membuktikan kebenaran pengalaman spiritual. Nabi Musa ketika ter"fana" di Gunung Thur Sina : 

 
Artinya:  " Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS : Thaahaa Ayat  14)

Saya bukanlah garam dan garam bukanlah saya...Tapi saya ingin seperti garam, bukan garam didapur, disupermarket, dipasar, maupun garam dimasakan.

Makanya keringat kita asin...Apakah kita  tidak menyadari semua itu?

Kemudian timbul pertanyaan bagaimana kita bisa tahu siapa AKU, tanpa mengenal dan memahami Si AKU...saya bukanlah ahli Fiqih maupun ahli dalam Ilmu Ma'rifat tetapi sedikit akan saya bagi pengetahuan mengenal siapa AKU. Mengenal AKU tidak akan pernah lepas dari konteks awal yaitu MENGENAL DIRI ( Mengenal Nafsu kita ),seperti Hadist Qudsi dan Hadist Rasullah di bawah ini:

  1. MAN AROFA NAFSAHU FAQOD AROFA ROBBAHU  (Barang siapa mengenal nafs (diri) nya, maka dia mengenal Tuhan nya )
  2. WA MAN AROFA ROBBAHU FAQOD JAHILAN NAFSAHU ( Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasa bodoh )
  3. MAN TOLABAL MAOLANA BIGOERI NAFSI FAQODDOLA DOLALAN BAIDA  ( Barang siapa yang mencari Tuhan keluar dari dirinya sendiri maka dia akan tersesat semakin jauh )
  4. IQRO KITAB BAQO KAFA BINAFSIKA AL YAOMA ALAIKA HASBI  ( Bacalah kitab yang kekal yang berada di dalam diri kalian sendiri )
  5. ALLAHU BATHINUL INSAN, AL INSANU DHOHIRULLAAH  (Allah itu bathinnya manusia, manusia adalah dhohirnya (kenyataannya) Allah )
  6. AL INSANU SIRI WA ANA SIRUHU  ( Rahasia kalian adalah rahasia-Ku )
  7. DALAM SETIAP RONGGA ANAK ADAM AKU CIPTAKAN SUATU MAHLIGAI YANG DISEBUT DADA, DI DALAM DADA ADA QOLBU, DALAM QOLBU ADA FUAD, DALAM FUAD ADA SYAGOFA, DI DALAM SYAGOFA ADA SIR, DALAM SIR ADA AKU, TEMPAT AKU MENYIMPAN RAHASIA.
  8. LAA YARIFALLAAHU GHOIRULLAH ( Yang mengenal Allah hanya Allah )
  9. AROFTU ROBBI BI ROBBI  ( Aku mengenal Tuhan melalui Tuhan )
  10. MAA AROFNAKA HAQQO MA’RIFATAKA  (Aku tidak mengenal Engkau, kecuali sampai sebatas pengetahuan yang Engkau perintahkan )
Jelas sekali dari Hadist tersebut di atas menggambarkan bahwa Untuk Lebih Mengenal Allah maka kita haruslah Mengenal diri artinya kita dituntut untuk mengenal dan memahami seluk beluk Nafsu kita terlebih dahulu. Kalau kita sudah mengenal dan memahami nya tentu kita akan tahu siapakah AKU. Kalau kita tidak bisa mengenal dan memahami Nafsu, maka carilah orang yang sudah memahami dan mengenalnya. Siapakah manusia tersebut ? Tidak ada lain beliau adalah seorang Mursyid.

Senin, 18 Juni 2012

TANBIH



TTanbih ini dari Syaekhuna Al-marhum Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah.
Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria maupun wanita, tua maupun muda :


" Semoga ada dalam kebahagiaan, dikaruniai Allah Subhanahu Wata’ala kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian. Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemuliaan dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil dan makmur dhohir maupun bathin ".
 
Pun kami tempat orang bertanya tentang Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, menghaturkan dengan tulus ikhlas wasiat kepada segenap murid-murid : berhati-hatilah dalam segala hal jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan agama maupun negara.
 
Ta’atilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikianlah sikap manusia yang tetap dalam keimanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap Hadirat illahi Robbi yang membuktikan perintah dalam agama maupun negara.

Insyafilah hai murid - murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan setan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap perintah agama maupun negara, agar dapat meneliti diri, kalau kalau tertarik oleh bisikan iblis yang selalu menyelinap dalam hati sanubari kita.

Lebih baik buktikan kebajikan yang timbul dari kesucian :


1. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi dari pada kita, baik dhohir maupun batin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun dan saling menghargai.  


2. Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah agama maupun negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya “Adzabun Alim”, yang berarti duka-nestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai dengan akhirat (badan payah hati susah).


3. Terhadap orang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yang lemah-lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan.


4. Terhadap fakir - miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir-miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan.


Demikanlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran, meskipun terhadap orang - orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam a. s. mengingat ayat 70 Surat Al-Isro yang artinya :
“Sangat kami mulyakan keturunan Adam dan kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga kami mengutamakan mereka lebih utama dari makhluk lainnya.”
Kesimpulan dari ayat ini, bahwa kita sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat Surat Al-Maidah yang artinya :
“Hendaklah tolong menolong dengan sesama dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap agama maupun negara, sebaliknya janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah agama maupun negara".
Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing, mengingat Surat Al-Kafirun ayat 6 :”Agamamu untuk kamu, agamaku untuk aku”,
Maksudnya jangan terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga menghargai, tetapi janganlah sekali-kali ikut campur.
 
Cobalah renungkan pepatah leluhur kita:
 
“ Hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai, andaikan tidak demikian, pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. 


Karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri.
 
Dalam Surat An-Nahli ayat 112 diterangkan bahwa :
“Tuhan yang Maha Esa telah memberikan contoh, yakni tempat maupun kampung, desa maupun negara yang dahulunya aman dan tenteram, gemah ripah loh jinawi, namun penduduknya/ penghuninya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka sendiri”.
Oleh karena demikian, hendaklah segenap murid-murid bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna kebaikan dohir - batin, dunia maupun akhirat, supaya hati tenteram, jasad nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya “ Budi Utama - Jasmani Sempurna “ (Cageur-Bageur).
 
Tiada lain amalan kita, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebaikan, menjauhi segala kejahatan dzohir bathin yang bertalian dengan jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya syetan.


Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan dunia dan akhirat.
 
Amin.

Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956
Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan




( Sayyidina Syech Ahmad Shohibul Wafa Tadjul Arifin, RA )




UNTAIAN MUTIARA
( DARI PANGERSA GURU AL-MARHUM ABAH SEPUH) 


  1. Jangan benci kepada ulama yang satu Jaman
  2. Jangan menyalahkan kepada ajaran orang lain
  3. Jangan memeriksa murid orang lain
  4. Jangan berhenti bekerja meskipun disakiti orang
  5. Harus menyayangi orang yang membenci kepadamu





DOA WASILAH 



Marilah kita berdoa kepada Alloh SWT melalui Wasilah Pangersa Sayyidina Syech Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin Rodhiyallohu 'anhu, agar kita selalu mendapatkan rahmat dan maghfiroh-Nya, Sehingga dapat mensucikan berjuta-juta  jiwa yang kotor ketempat yang suci, dzohir maupun bathin.


Al-Fatihah.....

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes