Selanjutnya Syaikh Muhammad Abdul Gaos saefulloh Maslul Ra bersabda : "Mustahil Guru
Agung Meninggalkan jutaan umat TQN begitu banyaknya kalau tidak ada yang
ngurus. Karena sudah ada makanya abah pulang".
Inilah arahnya sabda beliau kepada seluruh ikhwan dan akhwat Tqn Suryalaya, karena beliau sudah tahu dan sudah diberi tahu oleh Guru Agung. Siapa lagi yang tahu dan diberi tahu kalau bukan seorang Mursyid dan penerusnya itu sendiri. Renungkanlah wahai saudaraku...!!!!
Selanjutnya lagi Guru Agung Syekh
Ahmad Shohibul wafa tadjul Arifin Qs bersabda kepada Syekh Abdul Gaos
Saefulloh Maslul Ra "...segini banyaknya yang berbondong-bondong ke suryalaya
BELUM TENTU 20%-NYA JADI ". Mari ikut yang sudah pasti, masuk 20%-nya
jadi.
Sirnarasa
Alloh berfirman :
walaqad makkannaakum fii al-ardhi waja'alnaa lakum fiihaa ma'aayisya qaliilan maa tasykuruuna
Artinya:
" Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami
adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu
bersyukur ".
Dan ternyata Angka 9 yang terdapat dari macam huruf dalam kalimat toyyibah menuntut kepada kita untuk NGAJI.
Ngaji menurut falsafah jawa maksudnya adalah Bolongan Sanga Dadi siji, supaya oleh Aji saking Alloh Dzat Maha Siji (Lubang sembilan jadi satu, supaya mendapatkan kelebihan dari Dzat Yang Maha Esa). Menurut Syaikh Achmad Mishbachul Munir Muslim Angka 9 yang terdapat dari kalimat Toyyibah menuntut kepada 2 masalah yang ada didalam tujuan NGAJI, yaitu :
- Bisa menutup Lubang 9 sehingga tidak maksiat kepada Alloh
- Bisa mengamalkan, melestarikan dan mengamankan ilmu yang dihasilkan dari NGAJI tersebut.
Lubang 9 itu antara lain : 2 lubang mata, 2 lubang hidung, 2 lubang telinga, mulut, kemaluan dan anus, artinya menutup lubang-lubang tersebut agar tidak maksiat kepada Alloh Swt, sehingga bisa mengamalkan, melestarikan dan mengamankan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw melalui wasilah Guru Agung Pangersa Abah Qs.
Jadi maksud Guru Agung untuk mengikuti AOS (405) adalah menuntut kepada semua muridnya untuk mengamalkan, melestarikan dan mengamankan baik waktu siang ataupun malam hari selama 24 jam yang terimplisit dari jumlah huruf laa ilaaha illalloh Muhammadur Rosulullah, agar bisa menutup 9 macam bolongan agar tidak maksiat kepada Alloh dengan dzikir jahar 165x dan dzikir khofi setiap helaian nafas, agar mencapai hakikat dari tujuan NGAJI.
C) Sinarmu Tetap Kurasa ( Sirnarasa )
emuanya saling berkaitan. Syaikh M Abdul Gaos Saefulloh maslul Ra bersabda : Sirnarasa itu " uriidu an laa uriida Qolahu Syeikh Abu Yazid Al-Busthomi " (aku menghendaki apa yang aku tidak kehendaki.. telah berkata kepadanya Syekh Abu Yazid Al- Bisthomi).
Beliau juga menegaskan pula " tidak tahu apa-apa, tidak mempunyai apa-apa, tidak mau apa-apa selain Guru Ruhku ", inilah isyarah dari angka ( 0 ) yang berasal dari perkalian angka 405 ( 4 x 0 x 5 = 0 ). Angka O mengandung isyarah takholluq secara bulat bahwa sesungguhnya seorang muslim harus bisa berakhlak dengan akhlak sembilan (9) macam huruf pada kalimat toyyibah dengan sungguh-sungguh. Itu artinya kita harus membulatkan tekad mengikuti AOS (405).
Menurut bahasa sunda halus Sirnarasa itu sama dengan mapan rasa ( sempurna rasa ) = Sajatining Hurip (hakikatnya Hidup) = ruh sulthoony mahalul ismits tsaali-tsi wahuwa " HU " (Alam Jabarut - alam malakut - Alam Naasuut - Alam Mulki), ruh sulthoni itu bertempat di nama yang ke 3 yaitu HU, jadi ada rahasia dibalik nama SIRNARASA.
Kalau boleh saya tafsirkan bahwa Sirnarasa itu sendiri adalah Wadah (Tempat) dan Isi (Silsilah). Berbicara tentang wadah (tempat) sudah seharusnya membicarakan tentang isi pula, karena kedua hal tersebut tidak bisa dipisah-pisahkan, makanya dalam penulisan Sirnarasa itu disambung tidak dipisahkan, karena mengisyaratkan sebuah tempat jalinan rasa yang menyambung antara Para ahli silsilah sampai Rosululloh Saw.
Dimana jalinan tempat / silsilah rasa antara Guru dan Murid sudah terukir jelas pada bab silsilah. Jalinan rasa ini sebelum diukir oleh Guru, Si Murid sudah dipersiapkan jauh hari sebelum jadi murid, itu artinya sudah ada tali silsilah sebelum si murid dilahirkan yang menyambung sampai ke Rosululloh, dengan kata lain Murid itu merupakan wadah (tempat) Guru dan Guru merupakan isi dari Murid. Jadi jelaslah bahwa ketika jalinan rasa itu dilaksanakan oleh Guru dan murid maka meneteslah benih Silsilah diantara keduanya yang tertuang dan diukir didalam nama SIRNARASA. Subhanalloh !
Kata
Abah Anom Qs kepada Abah Gaos Ra :,,, "aya urang didinya" (Apakah ada nama kita disana) ditunjukan kepada
sehelai dokumen,,, kata Abah Gaos Ra: "aya bah" (Ada Bah), kata Abah Anom : "tah geuning
urang teh turunan gurame"(Nah ternyata kita tuch turunan ikan gurame) .
Dalam pengamatan saya yang bodoh ini yang dimaksud ...turunan ikan Gurame adalah benih silsilah itu sendiri yang sudah diaplikasikan dengan jelas pada pemberian nama SIRNARASA oleh Guru Agung Syaikh Ahmad sohibul Wafa Tajul Arifin Qs. Ini adalah sebagai isyarah yang menunjuk pusat dan benih penerus perjuangan (Khirqoh) beliau kepada Syaikh M. Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra. Dikalangan orang sunda itu sendiri ikan Gurame diibaratkan ikan paling istimewa, sampai-sampai menanam ikan gurame pun pasti jadi gurame. Begitu juga waliyullah atasnya waliyulloh maka kebawahnya (keturunannya) juga waliyullah..
Jadi menurut hemat penulis nama SIRNARASA yang diberikan oleh Guru Agung Syaikh Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin Qs atau bisa disingkat ASWAJA adalah merupakan isyarah yang menunjukkan legalitas sebuah tempat atau wadah yang menampung isi benih-benih ahli silsilah sebagai pusat penerus perjuangan Guru Agung Pangersa Abah qs dan merupakan lingkaran penghubung antara murid dengan Gurunya.
Lingkaran penghubung itulah yang hidup dan apapun yang hidup pasti mempunyai arti dan
apapun yang mempunyai arti itu hidup. Sama halnya apapun Yang hidup mempunyai Rasa dan apapun yang mempunyai Rasa itu Hidup, itulah hakikat Sirnarasa.
Dengan penjelasan ini,maka dapat diambil kesimpulan bahwa hakikat Sirnarasa itu adalah Hidup. Dan Hidup itu sendiri ialah Sang
Maha Pencipta (ALLOH SWT). Padahal kita semua ini umat yang hidup. Hidup umat karena belajar. Maka dari itu tetaplah belajar untuk untuk meraih hidup. Belajar lebih baik untuk menjadi yang terbaik. Oleh sebab itu Hidup bukan untuk dunia tetapi hidup untuk Allah dan untuk mencari bekal kembali ke Akhirat
Mungkin suatu
hari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang belum kita pahami secara
ruhaniyah itu akan terungkap dengan sendirinya, setiap pertanyaan dalam
hati bukan untuk dipertanyakan, dan setiap jawaban bukanlah sesuatu yang
dicari apabila didapatkan, dan jika kita mendapatkan pernyataan apapun
dari Guru kita bukan untuk diterima begitu saja, perlu waktu untuk
mengerti, bahkan bisa bertahun-tahun untuk pengertiannya apa yang di maksud.
Wallohu 'alam.
Haul Pangersa 4 Agustus 2012 di Pesantren Sirnarasa
Lagu : Matahari Terbenam di Sirnarasa
Ciptaan : Syeikh Mursyid Kamil Mukamil M. Abdul Gaos Saefulloh maslul R.A
Aransemen : Ikhwan TQN PP. Sirnarasa
Lyric Lagu :
Semakin Cinta padamu
Semakin dalam rinduku
Ketika sang matahari kini
tlah terbenam sudah
Menetes air mataku
saat aku membayangkan
bagaimana jika tak ada dia
pasti ku tersesat jauh
Reff :
Bagai purnama
Hati yang tlah tertanam nama-NYA
dan ku berderai
walau dalam kegelapan
Dan aku menangis
aku menangis bahagia
ketika matahari terbenam di Sirnarasa