.

.

Jumat, 13 April 2012

RAHMAT MELALUI SEORANG MURSYID


Ketika kita mendapatkan sebuah amalan dzikir dari seorang mursyid, secara tidak langsung kita mendapatkan sebuah rahmat dari Alloh SWT, yang berbentuk ketenangan bathiniyyah. yang mana tiap individu seorang muslim akan mendapatkan sebuah ketenangan didalam bathiniyah, dengan jalan yang tidak sama dengan muslim lainnya. Tentunya hal ini terjadi karena tingkat rasa penerimaan dan keihlasan muslim yang berbeda-beda.

Seperti halnya saat kita dikarunia sakit, kita akan berobat kedokter dan meminum obat yang sesuai dengan petunjuk dari seorang dokter, itu juga sama seperti kebanyakan orang. Ada yang langsung sembuh, dan juga ada yang tidak ada reaksi apa-apa, atau bahkan sakitnya tambah parah. Kenapa hal yang demikian bisa terjadi? karena daya ketahanan tubuh kita yang berbeda-beda.

Begitu juga dengan dzikir, seperti yang sudah Allah tuturkan dalam ayat berikut,

  الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar Ra'd : 28)

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa saat kita berdzikir kita tidak menemukan ketenangan? bahkan terasa biasa-biasa saja seolah tidak ada hal yang istimewa? Padahal lafadz dzikir yang kita baca adalah dzikir yang sama? 

Jawabanya adalah karena kita mendapatkan dzikir tersebut dari orang yang mati hatinya atau dari buku-buku yang banyak beredar dipasaran, kita tidak tau dan mengenal si penulis. Solusinya hanya satu? segera ambil dzikir dari seorang yang hidup qolbunya serta ikhlas hatinya ( Seorang Mursyid ).


Istiqomah untuk mendapatkan kenikmatan Dzikir 


Ketika kita sudah dapat amalan dari seorang Mursyid, amalkanlah sesuai dengan petunjuknya. Biarkan seorang mursyid yang melukis dan mencoret-coretmu, karena sesungguhnya Dia-lah  yang menggerakkan hati kita, apa yang tersirat dalam hati, pikiran,dan yang menggerakkan semua adalah berkat karomah seorang mursyid, sehingga hati kita diberi karunia oleh Alloh bisa mengingatNya dan mendapatkan  anugerah dariNya'.

Kemudian, kita belajar memasrahkan segenap raga, jiwa dan nyawa dengan segala kedhoifan kita, menuju pada pada satu Dzat yang Maha Agung. Merasakan pergerakan aliran darah dan desahan nafas sambil mencoba menghadirkan 'Allah' sehingga seolah-0lah Alloh benar-benar mengawasi kita saat ini.

Merasakan nikmat dzikir menurut pengalaman saya pribadi seperti halnya saat kita 'reflek', artinya kita tidak mengetahui awal mula datangnya rasa itu. Seperti halnya saat kita larut dalam keharuan dan tangis, karena semua kejadian itu tidak bisa kita dramatisir. Karena rasa penuh pasrah dalam jiwa kehambaan yang berhasil membawa kemomen sakral seperti itu. Inilah salah satu kekuatan dzikir yang bisa meremuk redam segala sifat angkuh seorang hamba.


Teringat sebuah kisah, Saat orang kafir ingin membunuh Rasulullah dengan pedangnya, "hai Muhammad, sekarang siapa yang bisa menolongmu?', kemudian Rasulullah hanya menjawab "Allah..." langsung seketika itu juga tangan sang kafir gemetar hingga pedangnya terjatuh.

Dari kisah ini, Rasulullah ingin memberi tauladan buat kita, bahwa rasa kepasrahan dalam berdzikir yakni hanya dengan menyebut asma 'Allah' saja sudah membuat sang kafir lemah tidak berdaya. Inilah salah satu contoh kekuatan jiwa dalam dzikir yang sudah Rasulullah ajarkan pada ummatnya.

Dzikir Yang Ideal

Kemudian dzikir yang idel itu seperti apa? Karena sering kita terjebak dengan bacaan dzikir yang panjang dan melelahkan hingga berakibat melenceng dari maksud dari dzikir itu sendiri.

Biasanya himmah kita dalam mencari dzkir (berdzikir) saat kita dihadapkan pada keadaan jiwa terlemah (karena biasanya pada saat itu kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa dalam memecahkan kesulitan hidup).


Hingga tak jarang kita mencari dzikir atau do'a-do'a yang instan supaya kita cepat terbebas dari permasalahan dunia. Tentu saja cara ini kurang arif untuk kita lakukan, karena sejatinya Rasulullah sendiri sudah mengajarkan kepada kita dengan dzikir dari kita mulai bangun tidur hingga tidur lagi, dan inipun telah dicontohkan oleh seorang Mursyid

Istiqomah (terus-menerus) dzikir yang telah diberikan oleh Mursyid , Jangan tunda lagi, jangan menunggu Allah menguji kita lagi dengan kesusahan. Insya Allah dengan  melatih hati kita agar selalu ingat Alloh, kapan dan dimanapun berada, sehingga dzikir kita bisa meresap kedalam qolbu kia.

Itulah kenapa saat kita lupa berdzikir (yang sudah istiqomah) kita disunahkan untuk meng-qadha (mengulanginya lagi). Karena itu adalah kunci seorang muslim, untuk mendapatkan ketenangan bathiniyyah, sehingga kita tidak terjebak dan melenceng dari tujuan semula


Wallahua'lam

0 komentar:

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes